Archive for November, 2009

Jaminan Kebebasan Beragama

Monday, November 30th, 2009

Back

ZOOM2009-11-28Jaminan Kebebasan Beragama

Binsar A Hutabarat

Sidang Raya XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Mamasa, baru-baru ini, menegaskan, negara Indonesia belum mampu menjamin kebebasan umat beragama yang merupakan salah satu hak-hak asasi manusia yang dijamin oleh Pasal 29 UUD 1945. Negara masih mempraktikkan tindakan diskriminasi kepada kelompok warga negaranya, yang seharusnya diperlakukan sama dan setara dalam suatu negara, misalnya dalam pendirian rumah ibadah.

Selama lima tahun terakhir ini, tercatat sedikitnya 128 gereja ditutup, dilarang, atau diganggu dengan cara-cara kekerasan oleh kelompok-kelompok ekstrem. Bahkan, beberapa gereja yang sudah memiliki izin kemudian dicabut IMB-nya, seperti kasus Gereja HKBP Cinere dan Gereja Katolik St Maria Purwakarta. Pemerintah seakan tak berdaya menghadapi kelompok anarki yang melakukan teror dan pelanggaran hak asasi manusia.

Minimnya jaminan kebebasan umat beragama ini akan terus terjadi selama posisi agama dan negara tidak ditetapkan secara tegas, atau terus dirancukan. Pemerintah harus secara tegas berpegang pada konstitusi yang memberikan jaminan perlindungan kebebasan umat beragama. Hak kebebasan beragama merupakan pengakuan yang tertua secara internasional dari elemen-elemen HAM lainnya. Ironisnya, ternyata penegakan kebebasan beragama justru merupakan yang paling lambat daripada hak-hak lainnya, ini bisa terjadi karena agama sering dimanipulasi untuk kepentingan politik.

Pemisahan total antara agama dan negara, yang merupakan kelahiran negara sekuler, dipelopori oleh pengakuan Peace of Westphalia, dan pengakuan ini jugalah yang mempengaruhi isi deklarasi lahirnya negara sekuler Amerika Serikat yang menghargai kebebasan beragama. Tepatlah apa yang dikatakan oleh John Lock, tokoh HAM modern, bahwa negara dan agama harus terpisah, sehingga orang yang beragama apa pun yang memegang kekuasaan negara tidak boleh memberikan hak khusus kepada kelompok agama tertentu.

Realitasnya, usaha untuk menegakkan kebebasan beragama tetap mengalami perkembangan. Ini terlihat setelah Deklarasi Universal HAM tahun 1948, kemudian dibuat suatu covenant on human rights tahun 1966. Kemudian pada 1981 ada hal yang lebih menggembirakan, yaitu adanya Declaration on the Elimination of All Forms of Intolerance and Discrimination Based on Religion or Belief. Pernyataan deklarasi tersebut memang dapat menunjukkan bahwa pelanggaran hak kebebasan beragama masih terus berlangsung dan perlu penanganan terus-menerus secara lebih serius.

Fakta pluralitas agama merupakan realitas yang telah berlangsung lama di bumi Indonesia, bahkan jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itulah sebabnya, pengakuan itu kemudian menjadi dasar keputusan founding fathers Indonesia untuk memisahkan agama dan negara.

Indonesia bukan negara sekuler dan bukan negara agama (teokrasi) yang didasarkan pada agama tertentu, tetapi Indonesia adalah negara Pancasila. Jadi, keputusan untuk memisahan agama dari negara itu bukanlah pilihan yang sekadar menjadi suatu kompromi. Pada sudut pandang tersebut dapat dipahami mengapa negara teokrasi yang berdasarkan agama tertentu menjadi sesuatu yang absurd bagi Indonesia.

Sebaliknya, kenyataan orang Indonesia adalah orang yang beragama kemudian membuat Indonesia tidak mungkin menjadi negara sekuler yang memarginalkan agama dengan memenjarakan agama untuk hanya ada pada ruang privat agama sebagaimana terjadi pada negara sekuler yang memisahkan negara dan agama secara mutlak (separasi total).

TB Simatupang benar ketika mengatakan, keberadaan Indonesia sebagai negara Pancasila yang bukan negara sekuler dan bukan negara teokrasi adalah suatu eksperimen yang tiada duanya di negara lain dan di sepanjang sejarah umat manusia. Oleh sebab itu, tidak mengherankan upaya menjalankan hal tersebut tidaklah mudah. Tapi, bukan berarti itu adalah suatu spekulasi yang tidak memiliki pijakan kuat, karena pilihan Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila memiliki pengalaman sejarah yang amat panjang.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa agama di Indonesia memiliki posisi yang penting, agama bukan sumber masalah, dan kontribusi agama-agama sangat diharapkan dalam pembangunan bangsa, karena kontribusi agama-agama sangat nyata dalam perjuangan pembentukan negara Republik Indonesia. Peran agama-agama yang begitu penting itu membuat semua agama memiliki tempat di dalam negara yang berdasarkan Pancasila.

Apabila pemerintah dan rakyat Indonesia memahami hubungan agama dan negara, sebagaimana ditetapkan dalam Pancasila dan konstitusi, maka Indonesia pasti akan terluput dari apa yang dikatakan oleh Robert W Hefner bahwa kekerasan agama terjadi karena negara memanfaatkan agama (politisasi agama) dan agama memanfaatkan negara (agamaisasi politik). Demikian juga apa yang diperingatkan oleh Hanna Arendt tentang bahaya terjadinya kolonisasi ruang privat oleh yang publik dan kolonisasi publik oleh yang privat.

Sayangnya, kedua sisi gelap hubungan agama dan negara itu menjadi kenyataan yang terus berlangsung di bumi Indonesia, dan minimnya jaminan kebebasan umat beragama masih menjadi fenomena biasa di negeri ini. Itulah yang terkuak melalui banyaknya perusakan dan penutupan rumah ibadah di negeri ini.

Penulis adalah Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Monday, November 16th, 2009


<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki,
seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah
lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah
pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa
pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga
bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai
ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan
tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk
bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda
sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di
sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan
masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena
saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak
tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah
ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi
- dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih
dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi
udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan
tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu
untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi
dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda,
komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan
makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih
sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar,  bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua
uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat
kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa
indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang
kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang
anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja ,  ‘kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan  ini bukanlah akhir dari
segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda
semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena
perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya
menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi
PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya
dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang
yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan
yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri
karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan
isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh
asisten saya kemarin.  Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak
yang berusia 12 tahun ”

———— ——— ——— ——— ——— ———
——— ——— ——
*Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan
untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan,
tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa
bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang
membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran
dunia.